Welcome to Blog

Press Release Pementasan Teater “Belum Usai” Produksi Teater Sanggar Nuun Yogyakarta ke-XX

Sutradara: Zulfan Arif. Naskah: Mukhosis Noor. Aktor: Hamdani Malik, Dhani Dhesmawan, Faiz Erguby, Rifky Nur Fathoni. Musik: Sohibul Hidayat, Abdullah Fatih, Mizan Khaerusani, Ading, Alfi Fajri. Lighting: Moh. Faishol.

Acara: September 2020, pk.19.00-21.00 WIB.

Tempat: Gedung Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta.

Penyelengara: Sanggar Nuun Yogyakarta

Narahubung: 0822 4163 0520 (Sanah)

Teater selalu memiliki cara yang unik dalam berkomunikasi dengan audiensnya. Teater dalam pengertian tertentu dapat menjelma menjadi semacam kritik sosial atau sebagai refleksi dari potret sosial-politik. Pun demikian dengan pementasan “Belum Usai” yang mempunyai motif potret kehidupan masyarakat kontemporer.

Pementasan “Belum Usai” menceritakan potret kondisi kehidupan manusia yang terjebak pada jurang kemiskinan. Karena sumberdaya alam yang tidak memungkinkan untuk didistribusikan secara adil, mereka mendapatkan makanan dan minuman hasil dari sisa buangan atau sampah. Bagi mereka, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) adalah tempat tinggal yang paling nyaman dan menandakan adanya tanda-tanda kehidupan. TPA juga merupakan tempat untuk berburu makanan yang layak untuk diperebutkan bahkan dengan harga diri dan harga mati.

Mereka saling berebut untuk memperjuangkan kepentingannya masing-masing. Ironisnya, Atas nama bertahan hidup, mereka dapat membunuh satu sama lain bahkan hanya untuk memperebutkan sesuap makanan dan seteguk minuman. Dalam kondisi yang sulit seperti ini, mereka dipaksa memilih dua pilihan; Pertama: bertahan hidup dengan menjadi sedikit lebih kejam, atau Kedua: mati bunuh diri dan terbebas dari kesengsaraan hidup. Mana yang akan mereka pilih? Apa yang akan mereka perbuat?

Pementasan “Belum Usai” akan dibuka untuk umum dengan mengundang berbagai aktivis sosial, penjabat pemerintah, akademisi dan pengamat teater. Melalui pementasan ini, kita akan dihadap-hadapkan dengan realitas kehidupan yang seringkali luput dari dari perhatian kita; bahwa hidup seringkali lebih merupakan ketersentakkan.

Global WarNing!

Global WarNing!

“Bumi semakin kacau, kerusakan alam dan bencana menjadi bagian dari hari-hari kedepan di bumi.  Hal inilah yang membuat sekelompok orang berfikir untuk mempersiapkan sebuah kehidupan baru, kehidupan yang menghindarkan mereka dari bencana besar yang mereka bayangkan akan melanda bumi, kehidupan ini mereka sebut sebagai dunia bawah.”

Sutau hal yang ironis, jika menilik kembali kehidupan manusia dengan ragam aktifitas kesehariannya dewasa kini. Segala hal yang mengelilingi kata “Global Warming” atau tantangan pemanasan global hanya menjadi semacam peringatan-peringatan semu. Dimana penyikapan terhadap kondisi alam, kerusakan serta ancaman bencana  hanya hadir dalam kata-kata. Kampanye tentang lingkungan hidup berserak dimana-mana, kepedulian terhadap pengelolaan sampah digembar-gemborkan, namun itu semua hanya sebatas ucapan mulut belaka tanpa diringi tindakan yang nyata.  Gaya hidup sehat yang ditawarkan, bukan untuk kebaikan bumi, melainkan untuk kepentingan yang menguntungkan bagi seseorang atau kelempok-kelompok tertentu.

Manusia masih bebas menabung kerusakan-kerusakan yang menjadikannya lupa akan siapa alam, siapa air, siapa tanah dan siapa udara. Manusia menjadi terlalu akrab dengan teknologi, kehidupan virtual serta kebodohan-kebodohan yang mereka tertawakan sendiri. Dan semua hal yang terkait kerusakan hanya menjadi peringatan -Warning !- yang sesekali mereka peringati.

Berawal dari diskusi AfterNuun School yang rutin diselenggarakan setiap malam Rabu, gagasan-gagasan diatas akhirnya disusun bersama menjadi sebuah naskah Pantomim “Global WarNing!”. Melalui 9 aktornya dengan di bawah arahan Sutradara Tony Kartiwa, “Global WarNing!” mencoba menyuarakan kritik terhadap perilaku manusia yang semena-mena atas bumi dan alamnya.

“Global WarNing!” merupakan produksi pantomim II Sanggar Nuun yang memakan waktu proses lebih kurang tiga bulan. Produksi Pantomim “global warNing!” dipentaskan di dua kota, Surakarta dan Yogyakarta. Pementasan produksi digelar di Teater Arena Taman Budaya Surakarta pada 10 Agustus 2009 dan  Auditorium IST Akprind Yogyakarta pada 13 Agustus 2009. 

Naskah Pertunjukan Musik “PATAKA”

Naskah Pertunjukan Musik “PATAKA”
Kesenian seringkali menjadi tolok ukur kebudayaan, karena secara langsung ataupun tidak langsung kesenian mesti berpaut pada realitas lingkungan pembentuknya. Melalui media kesenian itulah segala macam persoalan yang menjadi kegelisahan dapat terwujud, baik yang sampai pada upaya penemuan resolusi atau tawaran logis atas pertanyaan-pertanyaan tertentu. Dunia pertunjukan adalah ajang bagi apresiator kesenian untuk membaca kembali realitasnya, [...]