0%
Posted inPuisi Sastra

Teramat Amarah Kerinduan

Biarkan saja aku memandang lambat
memuja lebih dalam
mengagumi lebih jauh
kemudian terjatuh lebih lama

sembari menggenggam pedang yang sewaktu-waktu
wajar di hunus ujungnya ke dada hinggah jiwa
Nampak ceceran darah dari ujung sampai pangkalnya

Pastikan tiada lagi denyutnya
detaknya yang telah mengering
membentuk sebuah kerinduan baru
dari jejak yang menua

seasing tuturku sungguh dangkal
hanya untuk memahami
yang aku tau

Sewajarnya saja ku berada dikala
kan berdiri di antara
Kebingungan dahulu.

sewaktu pada sebagian arah
telah ada tuk menatap sebagian
yang menjadi takdirku mengikuti
hati yang sejalan dengan semula

Inikah akhir sebelum niat memulai
Unggul bungkuk dalam kerendahan
Benar dekat saat berlari jauh
Tiada berujung kian menyakitkan
Gelora ayana mudah tertancap di sepilu


Syahrul shalitea

Syahrul shalitea

Mahasiswa Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga. Lahir di GMNI, dewasa dan menjadi ketua. Kemudian berlayar dan menemukan arti hidup di Sanggar Nuun

Tinggalkan Balasan