Asal Usul Fiksi Apocalyptic dan Post-apocalyptic

Asal Usul Fiksi Apocalyptic dan Post-apocalyptic

Akan seperti apakah akhir dunia kita di masa depan? Akankah peristiwa politik di masa depan dipenuhi kegagalan yang menyebabkan perang nuklir? Apakah senjata biologis yang kita kembangkan hari ini pada waktunya akan digunakan di masa depan? Sehingga kita sakit dikarenakan pandemi massal? Kering oleh perubahan ekstrim iklim global, diperintah oleh robot karena ledakan teknologi, atau terjebak pada pertarungan tanpa henti melawan invasi alien? Genre fiksi Apocalyptic dan Post-apocalyptic berusaha menjelaskan pertanyaan-pertanyaan semodel ini dan menggambarkannya ke dalam sebuah karya.

Jika Apocalyptic dapat disebut sebagai penjelasan dari peristiwa kiamat atau berakhirnya dunia, literatur yang membahas hal-hal tersebut sebenarnya telah dilakukan oleh agama-agama di masa lalu. Islam, Kristen, Yahudi dan bahkan Agama-agama non-abrahamik mempunyai pandangan tersendiri mengenai bagaimana dunia itu pada akhirnya akan berakhir pada kehancuran total. Kisah-kisah dan teori tentang hari kiamat tertulis jelas di dalam kitab-kitab mereka.

Para penulis kreatif dari abad ke sembilan belas melakukan eksplorasi pada tema-tema ini. Ada banyak di antara mereka, tetapi yang paling terkenal mungkin adalah film The Last Man karya Mary Shelley (1826) atau Cerpen Edgar Allan Poe tahun 1839 “The Conversation of Eiros and Charmion”.

Genre Apocalyptic jelas tumbuh berkembang akibat adanya Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan perlombaan senjata nuklir pada Perang Dingin. Situasi ini menguntungkan mereka dalam memperluas wawasan dalam menentukan keberakhiran dunia secara nyata. Para penulis, novelis, sutradara dan esais menyulap genre Apocalyptic menjadi dunia yang penuh dengan kemungkinan. Mereka menawarkan perang nuklir, perang zombi hingga perang melawan alien.

Tentu ada banyak tema yang dapat dikandung fiksi Apocalyptic dan Post-apocalyptic. Pada umumnya, fiksi ini hampir selalu melibatkan suasana yang mengarah pada kehancuran masyarakat, kerusuhan massa dan kematian yang meluas. Dan situasi yang semacam ini dapat diperoleh melalui keadaan seperti; perubahan iklim secara ekstrim, Pandemi massal, Holocaust nuklir, kebangkitan robot, penghancuran kota-kota besar seperti New York atau Paris, Perang tanpa akhir, Pemerintah fasis dan masih banyak yang lainnya.

Dalam karya Apocalyptic dan Post-apocalyptic seperti ini, tokoh utama biasanya terjebak pada masalah utama dan ditugaskan untuk menyelesaikan problem tersebut karena diilhami oleh kelainan tertentu yang mungkin hanya dimilikinya. Genre Apocalyptic dan Post-apocalyptic memang telah menjadi kekuatan tersendiri di zaman ini. Namun, yang paling berkesan di sini mungkin adalah ketika Genre Apocalyptic dan Post-apocalyptic mengatakan akan datang kehancuran dunia ketika waktunya tiba, sepertinya tidak ada yang benar-benar fiksi dalam hal ini.

Baca referensi di bawah ini untuk mendapatkan pengetahuan lebih luas tentang fiksi Apocalyptic di website MasterClass

Singularitas Teknologi: Antara Ancaman dan Kemajuan

Singularitas Teknologi: Antara Ancaman dan Kemajuan
Dalam tiga puluh tahun, kita akan memiliki sarana teknologi untuk menciptakan kecerdasan manusia super. Tak lama setelah itu, era manusia akan berakhir.
Vernor Vinge

Singularitas teknologi merupakan hipotetis peradaban teknologi di masa depan yang mempengaruhi eksistensi umat manusia karena kemajuan teknologi yang tidak dapat diubah dan dikendalikan. Dalam versi secara umum, singularitas disebabkan oleh “ledakan” teknologi agen intelijen terutama yang berbasis perangkat lunak seperti kecerdasan buatan (artificial general intelligence). “Ledakan” ini menghasilkan kecerdasan super ultra intelijen yang sangat kuat dan secara kualitatif jauh melampaui semua kecerdasan manusia karena mampu mengupgrade dan memperbarui dirinya sendiri.

Lalu bagaimana ledakan itu terjadi? Pertama, mesin ultra intelijen dapat didefinisikan sebagai mesin yang jauh melampaui kecerdasan semua kegiatan intelektual manusia bahkan bagi manusia terpintar sekalipun. Karena kemampuan mesin ultra intelijen didesain untuk kegiatan intelektual, maka mesin ultra intelijen mampu membuat mesin yang lebih cerdas lagi dan terus memunculkan siklus yang baru. Di sinilah “ledakan kecerdasan” berlangsung dan tidak ada yang bisa mengendalikannya. Sedangkan kecerdasan manusia tertinggal jauh di belakang karena keterbatasannya.

Banyak pendapat dari para ilmuwan mengenai tidak ada yang dapat menghentikan kemajuan. Tetapi, apakah kemajuan teknologi seperti itu dapat dihindari? Atau jika tidak, apakah arah kemajuan dapat dirubah agar manusia dapat selamat? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini nampaknya sedang diperdebatkan oleh kalangan cendikiawan hari ini.

Lihat sumber berikut ini untuk mendapatkan bacaan yang lebih luas.

Vernor Vinge

Manhattan Project: Atara Perang dan Perdamaian

Manhattan Project: Atara Perang dan Perdamaian

 

Dalam rangka untuk melindungi dunia, apakah kita memerlukan ‘kekuatan’ atau ‘cinta’?

Rikudou-Sennin

Manhattan Project merupakan serangkaian proyek penelitian yang mengembangkan dan memproduksi senjata nuklir selama Perang Dunia II dan Perang Dingin. Penelitian ini dipimpin oleh Amerika dengan dukungan dari Inggris dan Kanada. Sesuai namanya, pengembangan ini pada awalnya terletak di Distrik Manhattan. Kisah Proyek Manhattan sendiri dimulai pada 1938, ketika para ilmuwan Jerman Otto Hahn dan Fritz Strassmann secara tidak sengaja  menemukan fisi nuklir. Dan itu masih terus dikembangkan hingga hari ini.

Project ini diperkirakan mempekerjakan sekitar 130.000 karyawan dan menelan biaya sekitar 23 miliar US Dollar pada tahun 2018. Penelitian ini dikembangkan di lebih dari 30 lokasi yang tersebar di seluruh Amerika, Kanada dan Inggris. Sekitar 90% dari biaya yang ada digunakan untuk membangun dan memperluas pabrik termasuk memproduksi bahan fisil, sedangkan sisanya digunakan untuk mengembangkan dan memproduksi senjata.

Dalam sejarahnya, Proyek Manhattan benar-benar menjalankan visinya ketika zaman bom atom secara resmi dimulai, yaitu pada 16 Juli 1945. Untuk pertama kalinya, Pada 6 Agustus, bom atom dengan kekuatan sekitar tiga belas kilo ton dijatuhkan di Hiroshima. Ledakan ini diyakini menelan korban hingga 237.000 orang yang terbunuh secara langsung atau tidak langsung oleh efek bom, termasuk luka bakar dan penyakit kanker.  Tiga hari kemudian, bom atom kedua dijatuhkan di Nagasaki dan diperkirakan menelan korban 40.000 hingga 75.000 orang meninggal segera setelah ledakan atom, sementara 60.000 orang lainnya menderita luka parah.

Peristiwa tersebut telah menyeret para cendikiawan untuk terlibat dalam perdebatan tajam tentang keputusan menjatuhkan bom atom. Kalangan yang disebut “Tradisionalis” menyatakan bahwa bom itu diperlukan untuk menyelamatkan nyawa Amerika dan mencegah invasi yang mungkin menelan lebih banyak nyawa. Selain itu bom itu penting dijatuhkan untuk memaksa Jepang menyerah.

Intinya, Manhattan Project mempunyai pengaruh yang besar terhadap program pengembangan senjata pemusnah massal negara-negara lain. Project ini meninggalkan warisan yang kompleks segera setelah berakhirnya Perang Dunia II seperti memicu perlombaan senjata nuklir pada Perang Dingin dan kebijakan program nuklir setelahnya. Tidak hanya bagi Uni Soviet, tetapi juga Prancis dan negara-negara lainnya.

Oleh karena itulah Manhattan Project tetap menjadi subjek kontroversial bahkan hingga hari ini. Ketidak seimbangan kekuatan militer dunia pada akhirnya memupuk kebencian dan rasa iri di antara mereka. Semua berawal dari pertanyaan apakah bom itu diperlukan? Dan apakah bom dan senjata pemusnah massal lainnya harus digunakan sebagai satu-satunya cara dalam menjaga keamanan dan stabilitas dunia? Apa jaminannya jika program nuklir tidak digunakan untuk menghegemoni negara-negara yang lemah? Pertanyaan-pertanyaan ini masih akan terus diperdebatkan hingga hari ini. Tetapi, kedamaian tidak akan pernah ada selama masih ada ketidak-percayaan satu sama lainnya.

Baca literatur ini untuk mendapatkan informasi lebih lanjut di laman Atomic Heritage Foundation

Skenario Kepunahan Manusia dan Gerak Sejarah Hari Ini

Skenario Kepunahan Manusia dan Gerak Sejarah Hari Ini

Kepunahan manusia adalah akhir hipotesis dari spesies manusia. Dalam studi ilmiah, secara garis besar kepunahan manusia bisa disebabkan oleh dua faktor yakni karena sebab alami dan sebab dari tindakan manusia (antropogenik).

Banyak ahli mengatakan bahwa secara alami skenario kepunahan manusia dan kepunahan semua kehidupan di bumi secara alami merupakan sebuah kepastian di masa depan. Faktanya, Sains telah menghitung dan memperkirakan bahwa Matahari pada akhirnya akan mengembang dan menelan Bumi sekitar 7,5 miliar tahun. Sedangkan kondisi yang dapat menopang kehidupan diperkirakan berlangsung selama 1,5 miliar tahun.

Memang, perkembangan teknologi telah bergerak dengan sangat cepat. Akan tetapi, sekalipun umat manusia telah mencapai tingkat teknologi yang memungkinkannya untuk bermigrasi ke planet lain ketika teknologi mampu melakukan ini, alam semesta pada akhirnya juga akan berakhir. Dengan kata lain tidak ada yang mampu bertahan dari bencana alam yang super dahsyat ini. Banyak teori bermunculan seperti big freeze, heat death, dampak meteorit atau meledaknya vulkanisme berskala besar semua mendukung kesimpulan kepunahan manusia secara alami di masa depan.

Secara alami, kepunahan manusia beserta kepunahan mahluk hidup lainnya memang cukup meyakinkan. Akan tetapi, kepunahan yang disebabkan oleh tindakan manusia juga sangat dapat dipertimbangkan di sini. Nyatanya, melihat pergerakan evolusi manusia saat ini tampaknya sedang mengarah ke sana. Skenario antropogenik ini dapat dibayangkan melalui kapitalisme, ancaman perang nuklir, pengembangan senjata biologis, atau hal-hal yang sepele seperti efek rumah kaca dan pelepasan emisi gas beracun.

Selain itu, kegagalan teknologi dapat menjadi bencana yang paling mematikan. Artificial intelligence, nanobot dan bioteknologi yang muncul dapat membawa skenario kepunahan baru. Dalam hal ini, dalam seratus tahun ke depan, kepunahan yang diakibatkan oleh ulah manusia menjadi topik perdebatan yang hangat bagi kalangan cendikiawan.

Perubahan Ekstrim Iklim Global: Kehendak Manusia Kah?

Perubahan Ekstrim Iklim Global: Kehendak Manusia Kah?

Perubahan iklim merupakan topik pembahasan yang cukup menyita perhatian publik dalam waktu beberapa tahun belakangan ini. Ini dikarenakan dari berbagai pengamatan, cukup jelas bahwa iklim global sedang berubah. Sayangnya, perubahan iklim global tidak dapat dijelaskan kecuali disebabkan oleh tindakan dan aktivitas manusia.

National Climate Assessment menjelaskan bahwa mayoritas pemanasan dalam skala global dalam 50 tahun terakhir diakibatkan oleh aktivitas manusia terutama dari hasil emisi pembakaran bahan bakar fosil (batu bara, minyak, dan gas alam) dan dari deforestasi.

Ada banyak bukti independen yang mendasari kesimpulan bahwa pendorong utama perubahan iklim baru-baru ini disebabkan oleh pengaruh manusia. Memang tidak salah jika faktor manusia dan faktor alam saling bersinergi dalam masalah ini. Akan tetapi, bahkan jika faktor manusia dihilangkan, tetap saja, faktor alam tidak membawa perubahan iklim secara ekstrim. Dengan kata lain, faktor manusialah yang menjadi penyebab utama perubahan iklim global secara cepat dan ekstrim.

Permasalahannya lebih kompleks ketika membayangkan perubahan iklim global di masa depan. Terlebih lagi, faktanya kita hidup di rumah kaca dan bergantung dengan skema ini yang lambat laun mengakibatkan kerentanan atmosfer dan kemudian menghancurkan kehidupan di bumi. Apakah yang demikian itu merupakan kehendak dan keinginan umat manusia? Dan yang paling penting apakah manusia mau mengatasinya?

 

Lihat sumber berikut ini untuk mendapatkan bacaan yang lebih luas.

National Climate Assessment 

Studi okultisme Isaac Newton

Studi okultisme Isaac Newton

Sekitar akhir Februari 2003 yang lalu, sejumlah besar perhatian media di seluruh dunia menyoroti isu mengenai dokumen manuskrip yang ditulis oleh Isaac Newton yang sebelumnya sebagian besar tidak tidak diterbitkan dan tidak diketahui publik. Dokumen tersebut berbicara tentang bagaimana Newton memperkirakan bahwa dunia akan berakhir tidak lebih awal dari tahun 2060.

Fisikawan dan matematikawan Inggris Isaac Newton telah dikenal dunia karena meletakkan banyak dasar untuk matematika, fisika modern, astronomi dan optik. Selain itu, ia juga menghasilkan banyak karya yang sekarang diklasifikasikan sebagai studi okultisme Isaac Newton. Karya-karya ini mengeksplorasi sejarah, alkimia, dan penafsiran Alkitab.

Mengenai penafsirannya tentang Alkitab, dalam sebuah manuskrip tahun 1704, Newton menjelaskan upayanya mengekstrak berbagai informasi ilmiah dari Alkitab untuk memperkirakan kapan terjadinya hari kiamat. Ia menyisir Kitab Daniel dalam Perjanjian Lama sebagai petunjuknya dalam memahami dan menghitung terjadinya hari kiamat. Secara rumit ia mencoba memahami, menganalisis dan akhirnya mencapai kesimpulan bahwa dunia akan berakhir tidak lebih awal dari tahun 2060.

Naskah berusia tiga abad ini menghitung dan merinci secara hati-hati dimensi tepat dari Kuil Solomon di Yerusalem dan mencocokkan dengan penafsirannya tentang Alkitab. Dokumen-dokumen tersebut awalnya dibeli oleh seorang sarjana Yahudi di London pada tahun 1936. Namun, sejak tahun 1969 dokumen-dokumen ini telah disimpan di brankas Perpustakaan Nasional Israel di Yerusalem. Dokumen tersebut diyakini telah ditulis Newton menjelang akhir kehidupannya.

Dari awal, dokumen-dokumen tersebut tampaknya sengaja tidak ditulis oleh Newton dengan tujuan publikasi. Itu karena ia memang tidak suka kepada siapapun yang memberikan tanggal spesifik untuk Kiamat. Nyatanya, ia juga tidak pernah memberikan tanggal spesifik hari kiamat dalam dokumen-dokumen tersebut.

Sebenarnya, salah satu tujuan Newton menulis dokumen ini adalah untuk menghentikan dugaan yang terburu-buru dari orang-orang yang sering memprediksi kiamat sesering kegagalan prediksi mereka. Seperti yang pernah ia katakan; “Ini mungkin berakhir nanti, tetapi saya tidak melihat alasan untuk lebih cepat berakhir”.

Gerakan Islam Transnasional HTI

Gerakan Islam Transnasional HTI
Oleh: Mosses Mohamadh Gerakan Islam Transnasional tersebar dalam bentuk organisasi yang berbeda-beda dan mempunyai karakteristik yang berbeda pula. Diantara gerakan Islam yang paling Go Internasional adalah Hizbut Tahrir yang mempunyai basis politik Islam dalam perjuangannya mendirikan khilafah Islamiyah. Gerakan ini mempunyai tujuan yakni diterapkannya hukum Syariat Islam sebagai ideologi bernegara dan berkehidupan. Hizbut tahrir menolak [...]

Pengantar Produksi Sastra “Kita Kata Kota”

Pengantar Produksi Sastra “Kita Kata Kota”
Saat ini dunia sedang menampakkan wajah baru. Di mana manusia hidup di luar kesadaran dirinya, dan bergerak dalam pola kebudayaan komunikasi yang carut marut. Tidak ada lagi ruang pembatas untuk menjangkau segala kebutuhan yang kita inginkan. Segalanya melebur dalam satu kesatuan yang dapat dengan mudah kita akses melalui beragam alat buatan seperti: teknologi, yang kecerdasannya [...]

Membaca Spirit Kebudayaan Kontemporer Melalui Kacamata Jean Baudrillard

Membaca Spirit Kebudayaan Kontemporer Melalui Kacamata Jean Baudrillard
Hari ini, cara-cara baru untuk menembus realitas telah dikembangkan lebih jauh melalui teknologi yang muncul di sejumlah bidang seperti robotika, kecerdasan buatan, bioteknologi, Internet of Things, komputasi kuantum, percetakan 3D, dan kendaraan otonom. Inovasi teknologi menjadi mungkin untuk bersinggungan dengan masyarakat secara kumulatif. Batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen melalui [...]

Nietzsche, Kritik Atas Moral

Nietzsche, Kritik Atas Moral
Moralitas merupakan salah salah satu dari sekian banyaknya diskursus di dalam filsafat yang masih relevan untuk diperdebatkan sampai hari ini. Khusus persoalan moralitas, urusan moral adalah urusan hati nurani, dan urusan hati nurani seringkali juga urusan kebaikan atau keutamaan. Moralitas dalam sejarah pemikiran manusia dianggap juru selamat bagi umat manusia dalam menjalani berkehidupan yang sempurna. [...]