Mengeja Kata Mencipta Makna

Mengeja Kata Mencipta Makna

Maraknya pelbagai diskursus  sastra yang dilakukan terutama mengenai kepenulisan, di satu sisi, sedikit banyak masih belum mampu mendorong seseorang untuk menciptakan karya sastra. Hanya sebagai  wacana mentah yang berlaku ketika proses penggodogan tersebut berlangsung.

Dunia sastra era 20-an ditantang untuk menghasilkan tangan-tangan kreatif penulis muda dalam menciptakan dan mengapresiasi karya sastra yang mampu memberikan ruang perubahan bagi  atau bahkan menjadi tanda bagi  zamannya, seperti halnya Chairil Anwar dengan puisi bintang jalangnya yang menjadi inspirasi bagi pejuangan kemerdekaan bangsanya, atau  Pramoedya Ananta Toer, menjadi besar lewat Novel Tetraloginya; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Yang justru harus mengalami dahulu pengalaman kelam dan sarat dengan penindasan. 

Di sisi lain, diskursus sastra juga berdampak kepada sisi produksi teks yang berlimpah ruah melalui kelahiran penulis-penulis muda. Namun di balik banyaknya jumlah produksi teks tersebut, timbullah pertanyaan, bagaimana dengan kualitas teks-nya? yang hingga saat ini, sangat jarang tersentuh oleh kritik sastra.

Membangun Atmosfer kreativitas

Atmosfer kreativitas tak selalu identik dengan suasana kemanjaan dan kemerdekaan berkreasi. Situasi yang serba tertindas dan tertekan bisa juga dimaknai sebagai sebuah atmosfer kreativitas yang bisa mendorong seseorang untuk terus berkarya sebagai upaya untuk mendapatkan legitimasi kepenulisan di tengah deraan nasib yang menelikungnya.

Dalam konteks demikian, betapa perlunya menciptakan atmosfer kreativitas sebagai media untuk membangun ruang-ruang berkreasi, khususnya bagi calon-calon penulis. Mereka butuh banyak asupan kreativitas dari orang-orang di sekelilingnya untuk memacu semangatnya dalam mengasah potensi dalam dirinya. Sebagai sosok yang merdeka dan otonom, sang penulis tetap memiliki kekuatan personal untuk terus tumbuh dan berkembang sesuai dengan karakter dan kekhasan dirinya.

Proses Kreatif Penciptaan Karya Sastra

Karya sastra tak lahir begitu saja dari seorang penulis, tetapi melalui sebuah proses kreatif. Bagaimana ia bermain dengan angan-angan untuk keinginannya menciptakan suatu karya sastra. Penciptaan itu dapat berangkat melalui berbagai macam proses, salah satunya melalui observasi dan pengamatan yang menyertakan kepekaan rasa dalam membaca fenomena, sehingga menemukan momentum penciptaan.

Proses kreatif tersebut berlanjut pada penekanan dalam  landasan dasar, imajinasi, sublimasi, penghayatan, pencarian bentuk, kreativitas dan sejatinya kejujuran karya sastra hasil ciptaan penulis. Guna melengkapi dan menyeimbangkan proses kreatif tersebut,  diperlukan banyaknya wacana keilmuan dan pengetahuan yang luas dari berbagai macam bidang.

Proses kreatif yang instant itu tak jarang membuat kebanyakan orang tidak ingin ambil pusing dalam penciptaan karya sastra sehingga lebih mengedepankan bentuk dari pada nilai dan isinya. Bisa saja hal itu bertujuan, bagaimana karya sastra hasil ciptaannya dapat laku keras dan diminati pasar. Karya sastra semacam itu bisa jadi tidak dapat dipertanggung jawabkan ditengah publik.  Sangat berbeda dengan proses kreatif yang melalui pelbagai observasi dan kepekaan rasa yang tinggi, mereka lebih mengedepankan nilai dan isi tanpa mengesampingkan bentuk. Kepekaan rasa yang akan menemukan bentuknya sendiri, atau dapat juga dikatakan suatu bentuk mempunyai ruh.

Atmosfer kreatifitas yang berlanjut ke dalam proses kreatif penciptaan karya sastra yang jujur,  inilah yang coba diangkat oleh Sanggar Nuun Jogjakarta dan melalui Pesantren Sastra III bertemakan “Mengeja Kata Mencipta Makna” yang diselenggarakan pada 27 Juli-22 Agustus 2010.

Kidung Matahari

Kidung Matahari

Waktu menjadi cerita, karena waktu dialami manusia secara nyata, dirasakan dan dimaknai adanya. Hubungan antara waktu dan keberadaan matahari membawa kepada konsep hari, yakni konsep waktu sederhana yang didasarkan pada rotasi bumi itu sendiri. Bumi berputar bersama waktu menurut garis edarnya mengelilingi matahari membawa cerita dan kisah bagi manusia.

“Kidung Matahari” bercerita tentang hari yang didasarkan pada kehadiran matahari, yakni hari yang dimulai dari terbitnya fajar hingga berakhirnya malam. “Kidung Matahari” juga berarti suatu perjalanan yang mencari nuansa musikal dan harmoni di setiap bagiannya, mulai dari semburat fajar, semangat pagi, panas tengah hari, senjakala, hingga hening dan gulita malam. Perjalanan pun ternyata harus berakhir dan “Kidung Matahari” menutupnya dengan sebuah kesaksian akan adanya akhir hari, melalui sebuah realitas bahwa matahari ternyata tidak terbit dari timur, namun bumilah yang berotasi dan menjadikan siang dan malam!.

“Kidung Matahari The Sound of Harmony” adalah Produksi Musik XXII Sanggar Nuun yang berangkat dari pengalaman sehari-hari tentang waktu, pengalaman itu kemudian ditulis menjadi naskah oleh Mustain Ahmad dan diadaptasi ke dalam bentuk musik oleh M Nur Arifin, Wahyu Widayat Narko dan Asyharul Umam. “Kidung Matahari” dikemas ke dalam musik kreatif akulturatif, lewat akulturasi gamelan diatonis atau instrument musik tradisi Indonesia lainnya dengan instrument musik “modern”. Eksplorasi dalam bermusik tidak hanya sebatas pada instrument dan nada yang dihasilkan. Namun juga merambah untuk memasukkan unsur seni yang lain, seperti halnya Teater dan Sastra.
Setelah melalui proses yang cukup panjang, terhitung dari awal bulan Januari hingga pertengahan bulan Mei, “Kidung Matahari The Sound of Harmony”  dipentaskan di dua kota, Saung Angklung Udjo Bandung Jawa Barat pada 27 April 2010 dan LIP  Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta pada 10 Mei 2010. Kidung Matahari menyajikan 8 komposisi musik, 6 musikalisasi dan pembacaan puisi, 3 lagu oleh paduan suara oleh PSM Gita Savana dan 2 tembang jawa.

Puisi Musik dan Peristiwa

Puisi Musik dan Peristiwa
Tanpa musik, hidup adalah sebuah kesalahan. Orang Jerman bahkan membayangkan Tuhan sebagai penyanyi(Friedrich Nietzsche, Twilight of the Idols) Senja telah berlalu. Seperti hari-hari biasanya, tidak ada yang menarik dengan pergantian siang dan malam kecuali angin kencang yang datang dari utara. Menurut mitos ini adalah suatu pertanda bahwa sesuatu yang besar akan terjadi. Detik demi detik [...]