Kritik moral Nietzsche

Nietzsche, Kritik Atas Moral

Moralitas merupakan salah salah satu dari sekian banyaknya diskursus di dalam filsafat yang masih relevan untuk diperdebatkan sampai hari ini. Khusus persoalan moralitas, urusan moral adalah urusan hati nurani, dan urusan hati nurani seringkali juga urusan kebaikan atau keutamaan. Moralitas dalam sejarah pemikiran manusia dianggap juru selamat bagi umat manusia dalam menjalani berkehidupan yang sempurna. Sampai akhirnya Nietzsche muncul dan tampil ke mimbar utama pemikiran Barat, konsepsi moralitas, khususnya moralitas Gereja, dibabat habis, dihantam, dikritik dan dipertanyakan secara radikal.

Dalam sejarah modern, Nietzsche dikenal sebagai sosok provokatif, penghancur paling mematikan yang melampaui zamannya. Bahkan Nietzsche sendiri menganggap dirinya sebagai dinamit. Dinamit itu sudah meledakan diri semenjak ia mengumumkan kematian Tuhan, tetapi serpihan puing-puingnya tetap menyala dalam bentuk postmodern. Betapapun suramnya perjalanan hidup Nietzsche, uniknya adalah ia juga dianggap Nabi dan mempunyai pengikut yang tak sedikit. Ini dapat dilihat dari bagaimana buah pikiran-pikiran Nietzsche sangat dominan dalam mempengaruhi filsuf-filsuf seperti Heidegger, Foucault, Derrida dan Vattimo. Oleh karenanya, banyak penulis menamai mereka sebagai generasi penerus.

Barangkali tulisan ini terlalu singkat untuk membahas hal yang sangat kompleks dalam pemikiran Nietzsche, karena tidak mungkin membahas kritik atas moral Nietzsche, yang kita semua tahu bahwa ini bukanlah pekerjaan sederhana. Di sisi lain, tulisan ini mencoba sistematis dan berfokus pada problem moralitas pemikiran Nietzsche. Namun, karena kompleksitas struktur tautologi pemikiran Nietzsche, di sini juga akan di jelaskan sedikit mengenai prinsip The will to power. Ini perlu karena kritik moral Nietzsche adalah rangsangan yang akan membawa pada hipotesa The will to power; ide dasar dari seluruh filsafat kritik Nietzsche. Dengan skema ini menurut saya sudah cukup menjelaskan judul di atas, walaupun secara kuantitas memang masih sangat kurang. Saya hanya bisa berharap semoga tulisan ini bermanfaat, terutama bagi saya sendiri dan untuk orang lain.

Kritik Atas Moral

Pertama-tama, yang perlu kita garis bawahi ketika membahas kritik moral Nietzsche adalah struktur kritiknya haruslah dilihat dan ditempatkan pada arus besar filsafat dan kebudayaan waktu dimana Nietzsche itu hidup. Nietzsche hidup pada zaman dimana filsafat Barat diwarnai oleh gagasan filsafat moral Kant dan idealisme Hegel, Schelling, dan Fichte. Kedudukan Nietzsche di sini adalah sebagai pengkritik dari pandangan-pandangan para filsuf tersebut.

Konsepsi Nietzsche mengenai moralitas dapat dilacak sejak ia sedang masih dalam usia remaja. Kita semua tahu bahwa Nietzsche dilahirkan dan dibesarkan di kalangan orang beriman. Ayahnya adalah seorang Kiayi yang mengharapkan Nietzsche  menjadi penerusnya. Sejak kecil Nietzsche dibekali banyak sekali pengetahuan tentang dogma religius. Tetapi hal ini tidak membuat Nietzsche menjadi seorang yang taklid buta atas pengetahuan Agama. Malahan, secara bertahap Nietzsche memiliki rasa ngin tahu yang besar terhadap asumsi-asumsi teologis.

Allah adalah maha kuasa atas segala-galanya, itu berarti Allah juga berkuasa atas kejahatan (evil). Lalu kenapa kita membenci kejahatan? Sejak awal Nietzsche sebenarnya sudah mencoba menelusuri teka-teki asal-usul kejahatan, namun masih menggunakan asumsi teologis. Namun dalam perjalanannya, Nietzsche menemui titik dimana ia merasa tidak puas dengan asumsi-asumsi teologis. ia menemukan kejahatan justru bukan dibalik dunia, melainkan lewat dunia. Keraguan atau bahkan penolakan Nietzsche pada asumsi teologis membawa dirinya pada alam kontemplasi yang panjang. Hasil dari kontemplasinya adalah terluka sekaligus bahagia secara mendalam.

Kritik Nietzsche atas moral barangkali sedikit lebih mudah dipahami dalam analoginya pada penolakan oposisi biner dan dekonstruksi. selama ini, orang hanya mengikuti dan mempercayai apa yang disebut sebagai fakta moral tanpa mempertanyakannya. Nilai intrinsik ini diterima begitu saja tanpa meragukan bahwa orang baik menghadirkan nilai yang lebih tinggi daripada orang jahat. Orang baik membawa kebaikan dan kemajuan, sedangkan orang jahat adalah sampah tak berguna yang merugikan. Di sini Nietzsche hendak membalikan nilai-nilai dan mempersoalkan herarkisnya dengan mengajukan argumentasi bahwa, bagaimana jika ternyata orang baik adalah justru menjadi sebab kemunduran, apa jadinya jika moralitas yang dipahami selama ini ternyata membahayakan kehidupan?.

Terlihat jelas memang, bahwa perhatian utama kritik atas moral Nietzsche adalah mengenai gagasan orang baik. Tetapi harus diakui juga bahwa pernyataan liar di atas juga merupakan upaya perbaikan nilai termasuk nilai, hanya saja dari sudut pandang yang berbeda. Pembalikan-pembalikan ini hanya salah satu dari yang mengakibatkan runtuhnya kepercayaan pada nilai-nilai moral dalam peradaban Barat.

Goenawan Mohamad secara khusus memberi catatan pendamping  dalam buku St. Sunardi yang berjudul “Nietzshe”. catatan pendamping tersebut mengungkapkan penemuan-penemuan yang relevan dengan judul di atas. Uraian ini adalah pokok-pokok pikiran yang ditemukan Goenawan Mohamad dalam buku The Will to Power dalam aforisme 266. Beberapa catatan tersebut adalah sebagai berikut.

A. Moralitas sebagai tindakan dari imoralitas

  1. Nilai-nilai moral dimaksudkan untuk mencapai penguasaan, nilai-nilai bagaimanapun harus didukung oleh banyak kekuatan dan perasaan yang imoral
  2. Asal-usul nilai-nilai moral adalah hasil dari perasaan dan pertimbangan-pertimbangan imoral

B. Moralitas sebagai hasil kekeliruan

C. Moralitas selalu kontradiksi dengan dirinya sendiri

Retaliasi. Kesetiaan, keraguan, epoche, (penundaan penilaian yang dikembangkan oleh para skeptis kuno), penilaian. Imoralitas akan kepercayaan dalam moralitas.

Langkah-langkahnya:

  1. penguasaan mutlak atas moralitas: semua gejala biologis diukur dan dinilai dengan nilai-nilai moral.
  2. usaha mengidentifikasi hidup dengan moralitas (gejala dari bangkitnya skeptisisme: moralitas tidak lagi dirasakan sebagai antitesis); berbagai macam cara, bahkan dengan cara yang transendental.
  3. perlawanan terhadap hidup  dan moralitas: moralitas dinilai dan dicela dari sudut pandang kehidupan.

D. sejauh manakah moralitas selama ini bertentangan dengan dengan kehidupan

  1. Bagi penikmatan kehidupan, dan pengakuan dengan rasa syukur akan kehidupan.
  2. Bagi memperindah, meluruhkan kehidupan
  3. Bagi pengetahuan dan kehidupan,
  4. Bagi pengembangan kehidupan, sejauh moralitas berusaha untuk membedakan gejala-gejala tertinggi kehidupan dengan dirinya sendiri.

E. Kontra pengakuan: kegunaannya bagi kehidupan

  1. Moralitas sebagai prinsip  untuk mempertahankan dan mempersatukan keseluruhan secara umum, sebagai pembatasan atas anggota-anggotanya: “moralitas sebagai alat”.
  2. Moralitas sebagai prinsip untuk menjaga manusia dari kehancuran internal dari nafsu-nafsunya: “orang yang setengah-setengah”.
  3. Moralitas sebagai prinsip untuk menjaga orang dari akibat-akibat yang muncul dari kemalangan dan kemerosotan yang mendalam: “orang-orang yang menderita”.
  4. Moralitas sebagai prinsip untuk melawan orang-orang kuat: “orang-orang rendah”.

Kehendak Berkuasa

Kritik moral Nietzsche

Apabila kita membaca konsep moral Nietzsche, akan kentara bahwa kritiknya yang tajam terhadap moralitas Gereja, sains dan sejenisnya itu tak lepas dari prinsip “kehendak untuk berkuasa”. Dalam bukunya Beyond God and Evil, Nietsche membahasakan dunia sebagai kehendak untuk berkuasa. Dalam Geneology of Moral, Nietzsche mengatakan bahwa hakekat hidup adalah kehendak untuk berkuasa. Kosakata “The will to power” nampaknya akan dengan mudah ditemui pada karya-karyanya karena bagi Nietzsche memang kehendak untuk berkuasa adalah hakekat segala-galanya.

The Geneology of Morals adalah buku yang tepat untuk bisa melihat Nietzsche yang sedang membedah etika kekuasaan melalui retorika sejarah rasionalitas Barat. Baik moralitas orang kuat atau orang lemah melukiskan kehendak untuk berkuasa. Lebih lanjut di sana Nietzsche berusaha mengungkap bagaimana kehendak untuk berkuasa itu muncul dalam moralitas Barat dan mengapa moral itu diciptakan. Untuk menelusuri asal-usul moralitas Nietzsche membeda moral berdasarkan tujuan moral tersebut diciptakan. Secara terang-terangan Nietzsche menolak fakta moral karena moralitas pada dirinya tidak ada, yang ada hanyalah interpretasi moral. Seperti yang telah disebutkan di awal, bagi Nietzsche, moral sangat berkaitan dengan kehendak untuk berkuasa.

“Apakah sebenarnya kegunaan dari penilaian-penilaian dan tabel-tabel moral kita? Apakah hasil yang diberikan oleh aturan-aturan yang muncul dari penilaian dan tabel moral itu? Untuk siapa?dalam kaitannya dengan apa? Jawaban: untuk hidup. Tetapi apa itu hidup? Di sinilah kita membutuhkan suatu rumusan baru yang lebih pasti tentang konsep ‘hidup’. Rumusan saya tentang hidup adalah: Hidup adalah kehendak untuk berkuasa.”

Nietzsche, Will to Power

Sudah jelas kiranya bahwa program kritik Nietzsche atas moral mempunyai akar yang mendalam dari struktur peradaban Barat. Kritik atas moral adalah salah satu jaring-jaring yang ada dalam pemikiran Nietszsche. Konsep lain yang perlu disebut di sini misalnya, Nihilisme, La Gaya Scienca, Übermensch, Tragedi,  dan masih banyak yang lainnya, itu semua adalah jaring-jaring yang dapat digunakan untuk menelusuri bangunan dasar pemikiran Nietzsche. Pun demikian, pembahasan moral Nietzsche tidak akan nikmat jika salah satu jaring tersebut tidak ditautkan. Filsafat Nietzsche adalah sebuah bangunan yang terdiri dari puing-puing substansi yang berserakan. Sedangkan puing-puing itu merangsang Nihilisme.

Daftar  Rujukan

Levine, Peter, Nietzsche, IRCiSoD, Yogyakarta. 2013.

Nietzshe, Friedrich, Senjakala Berhala Anti-Krist, Narasi, Yogyakarta. 2016.

Sunardi, St., Nietzsche, LkiS, Yogyakarta. 1996.


Mosses Mohamadh

Mosses Mohamadh merupakan seorang akademisi di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Ia memiliki minat khusus pada filsafat kontinental dan wacana postrukturalisme. Saat ini, ia masih mendalami diskursus ontologis dan statusnya di dalam kebudayaan kontemporer.

Add comment