ingin bernostalgia

Ingin Bernostalgia

Datang sebuah pamflet di grup whatsApp Om Tejo tentang pementasan teater dari jurusan sastra indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta yang berjudul  “Koran” karya Agung Widodo sutradara Ilham Nawawi atau Mang Asep. Maksud kami menonton adalah ingin bernostalgia dengan naskah yang pernah kami pentaskan pada 9 Maret  2018 waktu study pentas kami masuk di sebuah organisasi kesenian yaitu Sanggar Nuun BOM-Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Setelah kami serombongan teman-teman sanggar nuun datang dan membeli tiket  dengan harga yang sangat murah Rp 5000 di gedung pertunjukan yang baru dibangun sangat megah sangat cocok untuk sebuah gedung pementasan. Masuk kedalam kedung kami di sambut para acer mempersilahkan duduk. Lalu duduk di deretan undangan komunitas padahal kami bukan undangan tapi ngaku saja tamu undangan lagian kosong banyak komunitas yang tidak hadir.

Keyakinan saya akan pementasan ini sangat bertambah dimana lampu yang sangat megah dengan par LED kurang lebih 19 buah, freznel tergantung diatas panggung yang tak kalah banyaknya. Waktu kami duduk juga disambut oleh grup musik yang sangat familiar di telinga kami sehingga kami ikut bersanyanyi. Suasana sangat enak dengan gedung, kursi yang empuk. Ditengah-tengah musi muncul dua MC pakaian mereka sesuai tema pementasan membacakan susunan acara dengan pembukaan,  sambutan, pembagian kenang-kenangan kepada dosen pengampuh mata kuliah teater dan pementasan terus pembagian dorprize dan yang ditunggu-tunggu yaitu pementasan.

Lampu padam seorang narator membacakan pengantar latar belakang pementasan seperti itu kira-kira. Lampu perlahan menyala mengambarkan suasana pagi tiba-tiba terdengar suara seorang pedang koran dari tengah penonton,bayangan saya pada tokoh masdi ternyata perempuan yang memerankan namanya diganti Iis. Iis sebelum masuk  kepanggung menawarkan koran ke penonton dan juga para dosen. Kemunculan Iis sedikit memupuskan kami akan sosok masdi dan Iis kurang piawai apalagi kami baru sadarkalau di panggung ada kondensor untuk membantu aktor agar vokalnya kedengaran.  Bayangan saya “teater kok pakai kondensor tidak olah vokal po? Hehehe.” Tapi is okelah mungkin karena gedungnya lebar butuh kondensor, Iis keluar masuk Sanah dan Kupar  membuka warungnya menarik karena warungnya rame banyak dagangannya si Kupar tingkahnya  membuat para ppenonton terbahak karena membuka baju maklum anak yang sedikit mengalami ganguan mental. Namun ekspektasi kami sedikit pupus lagi ketika Kupar ditinggal ibunya keluar karakternya lepas saat berjalan layak anak yang mengalami gangguan tapi seperti orang yang memerankannya, dan itu sedikit mengganggu tapi tidak bagi penonton karena diselematkan dengan tingkahnya membuang barang dagangannya ibunya dan makan seenaknya. Karena kami datang bersama yang pernah memerankan sanah sampai dia ketiduran saya colek ternyata dia ketiduran katanya males. Saya juga agak sedikit karena semua aktor karakternya kurang dari kostumnya contoh karta suami sanah yang kerjanya serabutan tapi pakai sepatu dan tas tidak menggambarkan karakternya, motivasi atau tehnik masuk Joko yang ngintip adegan Sanah sama Mbah Raken yang lagi pijet-pijetan tiba-tiba masuk lempar Kupar dengan wajan yang dipegang, apa salah kupar? Gak nyambung gaes. 

Akhirnya kami pasrah saja terhadap Teater Cangkrawangsa kami hanya menunggu kapan pementasan akan berakhir karena nostagia sudah tidak seindah yang kami bayangkan. Konflik semakn memuncak saat Karta tahu perselingkuhan Sanah dan Mbah Raken fotonya sempat di muat di koran. Dan Mbah Raken lari terbirit-birit  karakternya juga tidak masuuuk, ya sudahlah. Saat mau beranjak berdiri dan tepuk tanggan tak kira pentas sudah selesai ternyata tidak bayangan kami musik yang sudah menggebu-gebu kayak menggambarkan pembunuhan yang tiba berganti keroncong, kami langsung ketawa ya ela ternyata masuk panjang dan artinya di bibuat anti klimaks dengan masuknya Peni istri Mbah Raken.

Pentas selesai kami buru-buru keluar bayangan yang kami harapkan tak tercapai dimana fasilitas, artistik, yang bagus tidak tentu pentasnya bagus. Bagu atau tidak tergantung sudut kacamata masing-masing. Dan selamat buat teman-teman Teater Cangkrawangsa yang telah pentas selamat datang di dunia kesenian semoga pentas kedepan semakin menarik.

Hamdani

hamdani lahir di sumenep

Add comment