Welcome to Blog

Manhattan Project: Atara Perang dan Perdamaian

Manhattan Project: Atara Perang dan Perdamaian

 

Dalam rangka untuk melindungi dunia, apakah kita memerlukan ‘kekuatan’ atau ‘cinta’?

Rikudou-Sennin

Manhattan Project merupakan serangkaian proyek penelitian yang mengembangkan dan memproduksi senjata nuklir selama Perang Dunia II dan Perang Dingin. Penelitian ini dipimpin oleh Amerika dengan dukungan dari Inggris dan Kanada. Sesuai namanya, pengembangan ini pada awalnya terletak di Distrik Manhattan. Kisah Proyek Manhattan sendiri dimulai pada 1938, ketika para ilmuwan Jerman Otto Hahn dan Fritz Strassmann secara tidak sengaja  menemukan fisi nuklir. Dan itu masih terus dikembangkan hingga hari ini.

Project ini diperkirakan mempekerjakan sekitar 130.000 karyawan dan menelan biaya sekitar 23 miliar US Dollar pada tahun 2018. Penelitian ini dikembangkan di lebih dari 30 lokasi yang tersebar di seluruh Amerika, Kanada dan Inggris. Sekitar 90% dari biaya yang ada digunakan untuk membangun dan memperluas pabrik termasuk memproduksi bahan fisil, sedangkan sisanya digunakan untuk mengembangkan dan memproduksi senjata.

Dalam sejarahnya, Proyek Manhattan benar-benar menjalankan visinya ketika zaman bom atom secara resmi dimulai, yaitu pada 16 Juli 1945. Untuk pertama kalinya, Pada 6 Agustus, bom atom dengan kekuatan sekitar tiga belas kilo ton dijatuhkan di Hiroshima. Ledakan ini diyakini menelan korban hingga 237.000 orang yang terbunuh secara langsung atau tidak langsung oleh efek bom, termasuk luka bakar dan penyakit kanker.  Tiga hari kemudian, bom atom kedua dijatuhkan di Nagasaki dan diperkirakan menelan korban 40.000 hingga 75.000 orang meninggal segera setelah ledakan atom, sementara 60.000 orang lainnya menderita luka parah.

Peristiwa tersebut telah menyeret para cendikiawan untuk terlibat dalam perdebatan tajam tentang keputusan menjatuhkan bom atom. Kalangan yang disebut “Tradisionalis” menyatakan bahwa bom itu diperlukan untuk menyelamatkan nyawa Amerika dan mencegah invasi yang mungkin menelan lebih banyak nyawa. Selain itu bom itu penting dijatuhkan untuk memaksa Jepang menyerah.

Intinya, Manhattan Project mempunyai pengaruh yang besar terhadap program pengembangan senjata pemusnah massal negara-negara lain. Project ini meninggalkan warisan yang kompleks segera setelah berakhirnya Perang Dunia II seperti memicu perlombaan senjata nuklir pada Perang Dingin dan kebijakan program nuklir setelahnya. Tidak hanya bagi Uni Soviet, tetapi juga Prancis dan negara-negara lainnya.

Oleh karena itulah Manhattan Project tetap menjadi subjek kontroversial bahkan hingga hari ini. Ketidak seimbangan kekuatan militer dunia pada akhirnya memupuk kebencian dan rasa iri di antara mereka. Semua berawal dari pertanyaan apakah bom itu diperlukan? Dan apakah bom dan senjata pemusnah massal lainnya harus digunakan sebagai satu-satunya cara dalam menjaga keamanan dan stabilitas dunia? Apa jaminannya jika program nuklir tidak digunakan untuk menghegemoni negara-negara yang lemah? Pertanyaan-pertanyaan ini masih akan terus diperdebatkan hingga hari ini. Tetapi, kedamaian tidak akan pernah ada selama masih ada ketidak-percayaan satu sama lainnya.

Baca literatur ini untuk mendapatkan informasi lebih lanjut di laman Atomic Heritage Foundation

Skenario Kepunahan Manusia dan Gerak Sejarah Hari Ini

Skenario Kepunahan Manusia dan Gerak Sejarah Hari Ini

Kepunahan manusia adalah akhir hipotesis dari spesies manusia. Dalam studi ilmiah, secara garis besar kepunahan manusia bisa disebabkan oleh dua faktor yakni karena sebab alami dan sebab dari tindakan manusia (antropogenik).

Banyak ahli mengatakan bahwa secara alami skenario kepunahan manusia dan kepunahan semua kehidupan di bumi secara alami merupakan sebuah kepastian di masa depan. Faktanya, Sains telah menghitung dan memperkirakan bahwa Matahari pada akhirnya akan mengembang dan menelan Bumi sekitar 7,5 miliar tahun. Sedangkan kondisi yang dapat menopang kehidupan diperkirakan berlangsung selama 1,5 miliar tahun.

Memang, perkembangan teknologi telah bergerak dengan sangat cepat. Akan tetapi, sekalipun umat manusia telah mencapai tingkat teknologi yang memungkinkannya untuk bermigrasi ke planet lain ketika teknologi mampu melakukan ini, alam semesta pada akhirnya juga akan berakhir. Dengan kata lain tidak ada yang mampu bertahan dari bencana alam yang super dahsyat ini. Banyak teori bermunculan seperti big freeze, heat death, dampak meteorit atau meledaknya vulkanisme berskala besar semua mendukung kesimpulan kepunahan manusia secara alami di masa depan.

Secara alami, kepunahan manusia beserta kepunahan mahluk hidup lainnya memang cukup meyakinkan. Akan tetapi, kepunahan yang disebabkan oleh tindakan manusia juga sangat dapat dipertimbangkan di sini. Nyatanya, melihat pergerakan evolusi manusia saat ini tampaknya sedang mengarah ke sana. Skenario antropogenik ini dapat dibayangkan melalui kapitalisme, ancaman perang nuklir, pengembangan senjata biologis, atau hal-hal yang sepele seperti efek rumah kaca dan pelepasan emisi gas beracun.

Selain itu, kegagalan teknologi dapat menjadi bencana yang paling mematikan. Artificial intelligence, nanobot dan bioteknologi yang muncul dapat membawa skenario kepunahan baru. Dalam hal ini, dalam seratus tahun ke depan, kepunahan yang diakibatkan oleh ulah manusia menjadi topik perdebatan yang hangat bagi kalangan cendikiawan.